Bedah Otak Disruptive Innovator 

44 copy

Bagaimana jika cara kerja otak seorang Disruptive Innovator kita potret, bedah, dan petakan ? Apa jadinya jika kita dan tim kita mampu memiliki sistem kerja otak yang serupa dengan para Disruptive Innovator ini ?

Itulah tepatnya yang terjadi pada sesi Keynote Panel 2nd Indonesia Human Capital Summit (IHCS) di Ritz Carlton Hotel tepat 10 November 2017 lalu. Di sesi puncak itu saya diminta Farhan, sang moderator, untuk membedah bagaimana mekanisme kerja otak Wishnutama CEO NET Mediatama Televisi.

Selama ini kita senantiasa membedah fenomena Disruption dari kerangka yang digagas guru dan mentor saya di Harvard Business School, Prof. Clay Christensen. Bahwa ke depan persaingan dan pergerakan industri tidak akan lagi linear. Akan terus lahir para Disruptor, yang mengacak-acak industri tanpa batas dengan derajat inovasi yang di luar batas pemikiran standar.

Lalu kita bergegas melahap semua data dan informasi tentang disruption. Sibuk berpikir tentang Disruptive Strategy. Heboh merevitalisasi business model baru agar lebih disruptif. Ini yang saya istilahkan sebagai Macro Approach.

Lalu lupa. Bahwa Disruptive Strategy secanggih apapun adalah hasil dari pemikiran manusia.

Di belakang sebuah Disruptive Strategy senantiasa ada sosok Disruptive Innovator beserta timnya. Disruptive Innovation ala Apple tidak terlepas dari sosok Steve Jobs. Sebagaimana Facebook dan Mark Zuckerberg, Alibaba dan Jack Ma, Amazon dan Jeff Bezzos, Tesla dan Elon Musk, GoJek dan Nadiem Makarim, atau NET. TV dan Wishnutama.

Adalah guru Disruption saya yang lain, Prof. Hal Gregerson dari MIT Sloan School of Management, yang memotret dari perspektif Micro Approach ini. Maka lahirlah lima keterampilan Innovator’s DNA, yaitu : Associating, Questioning, Observing, Experimenting, dan Networking.

Namun di balik keterampilan itu, sesungguhnya ada proses tertentu di dalam otak kita. Riset neurosains membuktikan bahwa para inovator berpikir dengan menggunakan jalur sirkuit syaraf yang berbeda dengan orang kebanyakan. Otak mereka juga jauh lebih terampil memproduksi zat kimia syaraf (neurochemical) yang mendorong kreativitas.

Jika kita ingin membangun lebih banyak pemimpin yang mampu berpikir inovatif di jajaran organisasi kita, justru mekanisme otak di balik strategi dan keterampilan Disruptive inilah yang perlu dibangun. Ini yang dibangun Vanaya Coaching Institute sebagai Meta Approach dalam memotret Disruption. Ini yang tidak mudah digantikan oleh artificial intelligence secanggih apapun.

Ada banyak hal yang membedakan kerja otak seorang inovator dari kebanyakan orang. Salah satunya adalah perbedaan pola kebiasaan penggunaan sirkuit otak. Seorang inovator sejati sangat terlatih dan terampil dalam mengelola harmonisasi 3 sirkuit dalam sistem syaraf pusatnya, yakni Executive Attention Network (sirkuit fokus atensi), Imagination Network (sirkuit imajinasi), dan Salience Network (sirkuit berpikir sintesis).

Artificial intelligence mungkin akan mudah meniru mekanisme kerja Executive Attention Network. Sirkuit ini adalah jaringan yang kerap kita gunakan dalam menganalisa, merencanakan, menimbang pilihan, dan mengambil keputusan. Program AlphaGo karya Divisi Deep Learning dari Google meniru kerja sirkuit ini dalam algoritmanya. Hasilnya, AlphaGo berhasil menaklukkan pemain Go nomor wahid dunia Lee Sedol. Google berhasil membuktikan bahwa robot bisa mengalahkan manusia.

Tetapi belum tentu robot akan dengan mudah meniru Imagination Network dan Salience Network. Apalagi karena faktor emosi dan perasaan hasil kerja neurochemical dan sistem limbik banyak bermain di kedua jalur sirkuit itu. Ini baru dari jalur sirkuit saja, belum faktor-faktor mekanisme kerja otak yang lain. Inovator tidak berpikir secara mekanis linear. Cara kerja otaknya : beda.

Ketika membedah otak inovatif Wishnutama sang pelopor inovasi dunia pertelevisian, semakin tampak bahwa para inovator ini memiliki pola kerja otak yang berbeda. Beliau memiliki sistem berpikir yang berbeda dalam membaca informasi di balik data, memproses ide inovatif dari potongan-potongan informasi yang diserap, menghubungkan antar informasi dan antar data, membangun cara pandang yang berbeda dari kebanyakan orang, bahkan hingga bagaimana mengkondisikan diri agar “Aha” moment kerap muncul.

Dan menariknya semua dilakukan begitu saja. Tanpa sadar. Tanpa kesengajaan. Sampai-sampai di atas panggung pasca dibedah beliau berbisik pada saya, “Ternyata saya seperti itu ya, mbak Lyra ? Saya aja gak tau lho saya itu bagaimana…”

Memang. Selama ini Disruptive Innovator seakan terlahir karena bakat. Padahal kabar baiknya kemampuan berpikir inovatif bisa dibentuk. Baik secara makro melalui penciptaan iklim dan ekosistem, maupun secara mikro dan meta melalui coaching. Seorang coach yang memahami prinsip-prinsip neurosains akan mampu membantu proses stimulasi dan penguatan jalur-jalur sirkuit inovatif dalam otak Anda.

Tentu butuh proses. Tidak ada yang instan. Karena para inovator ini juga muncul dari tempaan sebuah proses yang panjang. Namun bukan tidak mungkin, karena kini sains telah membuka begitu banyak hal yang tidak kita pahami sebelumnya.

Disruption di depan mata. Tomorrow is today, istilah Prof. Rheinald Kasali. Sains telah membuka banyak peluang bagi kita untuk menjadi lebih inovatif. Maka menciptakan lebih banyak lagi sosok seperti Wishnutama dan Nadiem adalah sangat mungkin.

Keputusan selanjutnya di tangan kita : Siap Berubah atau Punah ?

 

 lyraLyra Puspa, Founder & President Vanaya Coaching Institute 

As the pioneer of Neurocoaching and Neuroleadership in Indonesia with > 3.000 coaching hours, she is the Indonesian CEO Coach that has coached hundreds of corporate CEO and executives, as well as business owners and investors. She is Chairman of Indonesia Applied Neuroscience Association (SINTESA).