Di Balik Nasihat “Pemimpin yang Melayani”

51 copy

Vanaya.co.id. Bagaimana bisa memimpin jika harus “melayani” yang dipimpin? Argumen lain, seruan ini hanya dianggap sebagai  ungkapan utopis semata. Pemimpin yang melayani dianggap hanya bisa diterapkan di organisasi-organisasi sosial atau tidak cocok diterapkan pada organisasi bisnis yang berorientasi mengejar profit. Anda setuju?

Neurosaintis James Rilling dan Gregory Berns dari Emory University telah menemukan bukti ilimiah tentang kepemimpinan yang melayani.  Menurut riset tersebut, ketika kita melakukan kebaikan maka bagian dari aktivitas otak kita yang mencatat “kenikmatan”. Ada perasan puas ketika kita melakukan kebaikan kepada orang lain.

Temuan lainnya dalam tulisan Emma M. Sepalla, PhD yang mengutip Michael Tomasello dari Max Planck Institute, pemimpin melayani wujud dari karakter belas kasih (compassion). Jadi selain mengandung unsur relijius, filosofis, atau spiritual, melayani adalah sifat alamiah manusia. Manusia berevolusi menjadi baik karena pada dasarnya memiliki sifat empati.

Lalu bagaiamana penerapannya? Pemimpin melayani ada dalam konsep “Servant Leadership” intinya mengesampingkan unsur “menguasai” dan “mengontrol”. Dalam pemimpin melayani, struktur kepemimpinan bersifat cair dan horisontal. Alur informasi diharapkan berjalan tanpa birokrasi dan hambatan para “pengawal.”

Power dan control bukan menjadi fokus utama. Seorang pemimpin yang melayani kenal kebutuhan para stakeholder dan dengan tulus memenuhi kebutuhan. Ketika kita berpendirian untuk melayani pemimpin tidak hanya mencapai tujuan namun juga dengan segenap belas kasih kepada sesama manusia.

Istilah servant leader dipakai untuk pertama kalinya oleh Robert K. Greenleaf pada tahun 1970 dalam tulisannya yang berjudul The Servant as Leader.  Ide tulisan The Servant as Leader muncul setelah Greenleaf membaca buku yang berjudul Journey to the East karangan Hermann Hesse.

Menariknya, coaching sebagai salah satu penerapan gaya kepemimpinan transformasional sangat sejalan dengan gaya kepemimpinan ini. Coaching didefinisikan sebagai kemitraan dalam sebuah proses percakapan yang mendalam untuk pembangkitan pemikiran dan kreativitas berpikir, yang mengilhami sehingga dapat memaksimalkan potensi pribadi dan profesionalisme.

Baca juga

Sebagai coach akan mendampingi setiap talent untuk dapat lebih sering mengungkapkan pemikiran-pemikiran kreatifnya sehingga dapat maksimal dan berkembang baik dalam menyelesaikan suatu tantangan dan dari segi kemandiriannya. Coaching memberi kesempatan bagi pemimpin untuk mendengarkan langsung apa yang disampaikan oleh timnya.

Mumpung kita diberikan kehidupan bukankah ada saatnya untuk berbuat banyak kebaikan? Termasuk berbuat baik dalam memimpin organisasi yang tantangannya makin hari makin menyibukan kita.

Vanaya LogoWe are a coaching firm, the only one that integrate coaching with business, entrepreneurship, wealth, and leadership.  Vanaya Coaching Institute develop research-based coaching innovation that empower corporation, business owners, organization leaders, and personal investors with Ericksonian Coaching approach.www.vanaya.co.id