EKONOMI BERBASIS WAKAF

 

WhatsApp Image 2017-12-15 at 09.22.18

Oleh: Lyra Puspa*

Bayangkan seandainya idle asset Anda entah berupa uang, emas, atau properti diwakafkan untuk periode 20 tahun. Selama masa wakaf itu Anda setiap bulan mendapatkan passive income berupa bagi hasil dari usaha produktif. Lantas di akhir tahun ke-20 aset wakaf Anda kembali, entah kepada Anda atau pewaris Anda.

Maka, ketika wakaf insya Allah diganjar pahala. Semasa periode wakaf, mendapat passive income rutin setiap bulan. Dan di akhir masa wakaf aset Anda pun kembali dan bisa otomatis diwariskan. Amal jariyah, investment, dan trust fund sekaligus.

Intinya, Passive Income Dunia-Akhirat dan Warisan dalam satu langkah. Mau ?

Alhamdulillah, insya Allah akan segera hadir sebuah terobosan solusi keuangan dan ekonomi : Wakaf Produktif Berjangka Berbasis Income Pentagon.

Kita sering lupa sejarah, bahwa wakaf produktif adalah engine kejayaan ekonomi Turki Usmani belasan abad lalu. Dan kita mungkin tidak sadar, bahwa mekanisme wakaflah yang melahirkan berbagai monumen kejayaan dunia modern seperti Harvard University, MIT, dan Smithsonian.

Maka bisa dibayangkan betapa indahnya ketika Wakaf menyatu dengan kombinasi ilmu Behavioral Economy, Shariah Investment, Finance, Wealth Management, Neuroscience, dan Coaching sebagai solusi pemberdayaan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Inilah bentuk aplikasi nyata NeuroEconomy dan NeuroFinance. Bukan teori, bukan ilusi.

Bismillah. Langkah pertama telah dimulai semalam dengan ditandatanganinya MoU kolaborasi berjamaah antara Dompet Dhuafa, Vanaya Coaching Institute, Pegadaian, Badan Wakaf Produktif, dan berbagai Lembaga Keuangan Syariah dalam acara Indonesia Wakaf Summit 2017 di Hotel Grand Sahid Jakarta. Mohon doa untuk kemudahan realisasi langkah selanjutnya bagi terwujudnya kemajuan ekonomi bangsa.

Jadi, siapa bilang pemberdayaan ekonomi dan pengentasan kemiskinan tidak bisa digabungkan dengan instrumen investasi ?

*Penulis adalah President Vanaya Coaching Institute, Ketua Umum SINTESA (Sinergi Terapan Neurosains Indonesia), dan Kandidat PhD Applied Neuroscience in Psychology dari Canterbury University UK